I am who I am (modal dariNya tak sepenuhnya menjadi hartaku)

Start is finish, awal adalah akhir. Mengawali sesuatu adalah untuk mengakhirnya. Melangkah dari awal adalah untuk sampai pada akhir. Tapi, semua hal-hal tadi akan termusnahkan bila kita bercermin dengan keberadaan Tuhan, yang tanpa awal dan akhir. Wajar saja bila itu akan menghancurkan semua sebab dari suatu perkara yang biasa kita sebut dengan awalan dan akibat daripada perkara tersebut yang biasanya dikatakan sebagai akhir. Semua kejadian-kejadian yang akan terus bersambung, sampai pada tujuan yang ditentukan olehNYA.

Beberapa objek masalah atau problem yang dapat dilihat,dirasakan,dipikirkan,dan diberlakukan sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan.

Saat aku mulai dibentuk menjadi manusia. Ada beberapa unsur pembangun yang dikomposisikan dengan baik sehingga dapat menjadikan diriku sebagai manusia.

Ketika kucuran darah sang Ibu yang telah melahirkan kita melekat dalam tubuh mungil dan suci. Mengirim harapan dan do’a melalui sebuah nama yang indah. Juga memandikan sikecil dengan air suci berupa firman-firman Tuhan.

Sungguh kebahagian yang tak terhingga. Bila saat itu tubuh kita yang kecil, pikiran yang polos tanpa coretan, dan hati suci yang tak pernah melahirkan iblis. Bisa merasakan nikmat dan bersyukur padaNya.

Siang terik bisa kurasa sekarang. Mulut bisa kugunakan untuk menyatakan isi hatiku. Berbeda dengan dulu ketika diriku masih menggunakan mulut ini untuk mencari perhatian oranglain.

Dulu aku sering mengucurkan air mata hanya dengan tujuan untuk diperhatikan. Mungkin saat itu menggunakan mulut, lidah, pita suara, serta komponen penghasil suara yang lain adalah hal sulit yang ingin aku lakukan.

Hanya air mata dan suara tak karuan yang sering aku gunakan agar dapat berkomunikasi dengan mereka. Aku banyak menebarkan berbagai ekspresi pada mereka, aku juga mudah menyerap pandangan mereka.

Menjalankan takdir seperti air yang mengalir. Tak ada rencana atau penetuan masa depan, dalam otakku. Berpisah dengan orang-orang lama, lalu Tuhan menggantikannya dengan mempertemukan orang yang baru.

Aku mulai tertawa dan menangis bersama mereka. Berbagi duka dan kebahagian bersama. Mungkin dalam situasi yang lain ada yang dari spesiesku mengalami hal yang terbalik dengan kenyataan yang aku hadapi.

Apa mingkin dia ada? ya, dia pasti ada bila Tuhan menghendaki dia untuk ada.

Seseorang dengan tubuh mungilnya tak dapat berbagi. Dalam usia dininya tak bisa merasakan kebersamaan. Dalam sepinya, dia mengharap teman dalam wujud nyata. Bukan teman yang hanya tumbuh dalam pikiran atau teman yang tak sesuai dengan sepesiesnya.

Bagaimana isi hatinya?

Bagaimana pula dia bisa bertahan dalam keadaan seperti itu?

Dan bagaimana saat dia sudah tidak mampu lagi menampung nikmat dariNya? Apakah dia akan mati? Ataukah hatinya akan meladak sehingga dia hanya bisa menyombongkan dirinya? Atau mungkin, malah dia menjadi terlalu berharap dengan semua nikmatNya?

Sumpah! otakku akan pecah bila memikirkan hal-hal itu. Tapi kenapa, pikiran itu semua terus melekatiku?

Mungkinkah aku yang akan mengalami semua ini?

Tiada teman disisiku, tak cahaya kebersamaan dalam ruang hatiku yang hampa. Yang ada hanyalah harapan sebagai penerang jalanku.

Berharap……berharap….terus berharap……

Apakah tak ada usaha? huh…pastilah ada….tapi apa dayaku yang belum bisa berusaha? Apakah itu adalah salah dari pihak-pihak tertentu?

Jelasnya tidak!!! Tak ada yang patut disalahkan atas semua ini. Mungkin nanti ketika aku lebih siap, aku dapat berusaha dengan baik.

Suatu ketika aku memandang seseorang yang berada dalam kehampaan, sama sepreti aku. Aku terus memandangnya, dan aku melihat dia sedang mengisi kehampaan hidupnya. Dia membawa banyak barang yang digenggam oleh kedua tangannya. Tanpa berpikir, dia langsung memasukkan semua itu kedalam hampanya. Saat kulihat lebih dekat lagi, aku menemui bayangan yang kelam melangkah didepannya.

Ada pula dalam ingatanku, saat memandangi orang yang sedang bimbang dengan apa yang digenggamnya. Dia berpikir keras untuk memilih hal baik guna mengisi kehampaannya. Tapi saat aku berusaha mendekatinya juga, mataku memberikan tanda tentang keberadaan bayangan yang berkelok-kelok tak menentukan suasananya.

Dalam pikirku, apakah bayangan itu dapat berbicara? Beberapa saat setelah pikiran tadi terbesit di dalam otakku. Aku mendengar suara samar-samar. Lalu aku coba mendekati sumber suara itu, aku dengar bayangan-bayangan itu berbicara panjang lebar. Bayangan kelam itu menggilku, dia inginkan aku mendekat padanya. Setelah aku mendekat.Dia berkata,”apa kau pernah melihat bayangan yang cerah?”

Tentu saja dengan spontan aku menjawab, ” TIDAK ! Mana ada bayangan yang seperti kau katakan? bukankah kalian ini berwarna gelap?”

Dengan penuh ketenangan dan memberikan ekspresi yang dingin. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Beberapa saat setlah itu, bayangan dari orang bimbang tadi menghampiri kami. Dengan sesegera mungkin dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan bayangan kelam tadi.

“Ya, aku lihat pernah melihat bayangan cerah itu.” Sahutnya dengan penuh keyakinan. Kemudian dia menyuruhku untuk memalingkan diriku dari mereka. Saat mereka berkata, “Pandanglah lurus kedepan dan biarlah jalan, yang berpondasikan dari aturan Tuhan, menempatkanmu dalam tubuhnya.

Maka, saat kau bertuju pada jalan itu, kau akan melihat bayanganmu menjadi lebih cerah dari waktu ke waktu.

Aku mulai mendekati jalan yang mereka ceritakan tadi. Sebisa mungkin aku menuju jalan itu, dan saat aku memandang bayanganku sendiri. Aku lihat dia tersenyum dan senyumnya terus melebar saat langkahku mulai dekat dengan jalan itu. Dalam waktu yang cukup lama, akhirnya aku sampai di jalan itu.

Aku lihat lagi bayanganku. Aku terus menatapnya dengan hati gembira. “Ternyata mereka benar.” seruku dalam hati. Sambil memandang senyumnya yang melebar, aku juga melihat percikan kilau cahaya yang terang.

Kemudian aku tetapkan pandanganku kedepan dengan sesekali kulihat arah belakang, agar tidak ada kesalahan yang ku ulang, aku terus berjalan….berjalan…dan berjalan.

Bila ada kesempatan untuk berlari, tanpa ragu aku gunakan kesempatan itu dengan penuh kehati-hatian, aku menuju kearah yang ku inginkan.

Aku berusaha mendekatinya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kategori

  • another side

  • Tanggalan

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Smada’s Social Clan

  • Diatas