Today Is My Birthday

“Hari ini bukan hari ulang tahunku.” itu yang aku katakan pada mereka. Saat
mengucapkan itu, aku sedang duduk bersama teman-teman baruku. Aku tidak tahu
darimana mereka mendapatkan pemikiran kalau ini adalah hari ulang tahunku. Aku
sangat sebal kalau hari ulang tahun tiba. Aku sebal mengingat umurku yang terus
bertambah. Aku tidak mau umurku bertambah. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi
didunia ini.

 
Aku merasa sepertinya sudah cukup mengobrol dengan mereka. Aku mulai berdiri
dan berpamitan. Secara bersamaan pula salah satu temanku juga ingin pulang.
Santi, itu namanya. Kebetulan rumah kami satu arah. Secara otomatis kami pulang
bersama.
Dalam perjalanan kerumah aku terus berpikir, “Apa tadi mereka tahu ya kalau aku
bohong?”

 
Tiba-tiba Santi mengatakan sesuatu,”Kamu tadi bohong kan?”. Mengagetkan memang,
ada seorang teman yang tahu kalau temannya sedang berbohong padanya dan semua
temannya. Aku berpikir lagi, “Darimana dia tahu kalau aku berbohong?”. Dengan
hati yang penuh keberanian aku bertanya tentang apa yang ia bicarakan tadi. “Apa
kamu bilang? Aku bohong? Tahu dari mana kamu kalau aku berbohong?” aku membuat
pertanyaan yang memojokkannya dan juga terkesan penuh emosi. Dengan santainya
dia menjawab “Itu, tertulis di KTPmu. Tanggal lahir, 27 juli.”

 
“Arghhhh………kenapa KTPku ada di dia?” Jeritku dalam hati. “Kamu lupa ya
kalau aku ini guru copetmu?” lagi-lagi dia menjawab dengan santainya. aku
membalas kata-katanya dengan hati yang miris ” Oh..iya kamu itu guru copet ya?
Huh! Aku sampai melupakan statusmu sebagai master copet”.

 
“Kenapa bohong?” dia menanyaiku dengan ekspresi yang menunjukan rasa ingin tahu
sebesar bola dunia.

 
“Aku hanya tidak mau mereka memberiku selamat karena aku masih hidup. Aku tidak
mau mereka berharap yang macam padaku. Semoga tambah pintar, tambah kaya, tambah
cantik lah…. Aku tidak mau itu.” Sambil menahan tangis aku menjawab dengan
tegas.

 
“Oh…begitu ya? Harapan itu untuk masa depanmu kan? Tapi, bukannya kamu sudah
divonis mati beberapa bulan lagi? apa gara-gara penyakitmu itu kamu tidak mau
melihat kedepan?” dia memberiku pertanyaan yang sesungguhnya sudah terjawab
dipikirannya.

 
Mencoba santai dengan menjawab “Ya…kamu benar! Kamu dapat seratus deh.”
sambil berpikir apa yang ia tanyakan setelah aku berkata seperti ini.
Aku tunggu sampai lima menit dia tidak menanyakan apapun. Dalam pikirku, pasti
dia mengerti perasaanku sekarang.

 
Tapi kenapa tiba-tiba aku merasa aneh? Aku merasa sudah berjalan selama satu
jam, padahal rumahku hanya tiga puluh menit dari pos tadi. Aku juga tidak
merasakan kelelahan dan kepanasahan, padahal hari itu mataharinya terlihat terik
sekali. Aku melihat disampingku ada Sinta yang berwajah pucat seperti mayat. Aku
mulai ketakutan saat itu, karena setiap kali memanggil nama Sinta mulutku tidak
mengeluarkan suara. Dia terus berjalan begitu saja.

 
Aku merasa rumahku jauh sekali. Aku berinisial untuk kembali ke pos yang banyak
orang disana. Lalu aku akan melaporkan pada mereka tentang keaadaan Sinta yang
pucat dan suaraku yang tidak berbunyi.

 
Aku berlari secepat mungkin untuk mempersingkat waktu menuju pos tadi.
Tapi saat di perempatan dekat toko roti dan toko sepatu, semua temanku
berkumpul disitu dan menangis. Aku bingung dengan keadaan ini. Aku mencoba untuk
menjerit. Tapi sayang suaraku tak kunjung mengeluarkan bunyi. Aku frustasi
berat. Aku berjalan entah kemana arah yang kutuju.

 
“Dor! mati kau bodoh!” suara misterius terdengar dari arah belakang. Secepat
mungkin aku memalingkan pandanganku kebelakang. Dalam otakku, aku berpikir
seperti pernah mengenal orang ini. “Ah…sinta?” sorakku dengan bahagia. “Iya,
ini aku anak bodoh” jawabnnya dengan wajah yang pucat dan cuek. “Kenapa kamu
bilang mati padaku? Padahal kamu sendiri tahu kan kalau aku ini paling tidak
suka kata mati?” Tanyaku sambil menuntut. “Kamu itu memang bocah bodoh! Mati
saja kamu tidak tahu. Sekarang ini kamu sudah mati. Keadaanku juga sama
sepertimu, yaitu mati.” Dia menjawab sambil menegaskan kata “mati”.

 
Otakku terus menanyakan, apakah aku ini mati? Apa Sinta tidak bohong? Apa yang
sebenarnya terjadi?

 
“Kamu pingsan ditengah perjalanan tadi. Di perempatan itu aku membopongmu. Tapi
sayangnya nasib kita yang penuh dengan kesialan, ada truk yang membawa bahan
yang mudah terbakar berhenti saat lampu merah menyala. Lalu sopir truk itu
melihatku membopong kamu yang pingsan. Dia membantuku dengan menggendongmu.
Tiba-tiba ada orang yang mencuri bahan yang diangkut truk tadi. Kamu pasti tahu
lah…kalau disini ini kan truk-truk yang mengantarkan bahan pokok pasti akan
dicuri beberapa isinya. Apalagi lampu lalulintas disini sangat lama sekali
pindah warnanya.” Sinta menjelaskan dengan begitu detail. Tapi aku menyelanya
“Lalu kenapa aku dan kamu bisa mati?”

 
“Truk tadi meledak, gara-gara pencuri itu menjatuhkan rokoknya saat dia dikejar
oleh pengamen yang melihatnya. Aku tidak bisa lari secepat api ledakan yang
menyambar tadi. Sopir itu juga ikut terbakar tapi dia tidak mati, karena dia
menjatuhkanmu dijalan saat ledakan itu terjadi. Aku yang ada tidak jauh dari
truk, tersambar begitu saja. Dan, kamu yang dalam keadaan pingsan juga pastinya
tidak akan mungkin langsung siuman dan berlari. Pada akhirnya, jasad kita
terpanggang sampai gosong tak tersisa lagi kulitnya. Dibagian kepalaku, ada
lempengan logam dari truk yang mengenai tepat di otakku dan cermin truk itu
mengenai kulit dan mataku. Lalu, cermin yang terlepas dari truk itu mengenai
lehermu. Tertancap tepat dibagian tenggorokanmu dan dibagian jantungmu juga
tertancap logam yang tumpul.” Sinta menjelaskannya lagi secara detail dan
mengerikan.

 
Aku sudah mati, aku sudah tidak hidup lagi. Tapi bodohnya aku, kenapa sampai
bisa tidak tahu kalau aku ini telah mati?

The Last Message

Hanya pandangan dari sebuah sisi yang mungkin ada beberapa ketidak cocokan disitu. Maka, maafkanlah aku bila belum bisa memandang dari segala arah. Maafkanlah bila belum bisa aku berpendapat sesuai keinginan beberapa orang. Maaf bila aku belum bisa bijak. Maaf untuk segalanya. Inilah pesan terakhir dariku. 

Malam yang telah berlalu. Aku merasakan perpisahaan. Berpesta ria, berbagi kebahagian. Tawa riang yang memenuhi bangunan itu. Malam itu, hari dimana aku dan mereka berkumpul untuk memberikan peringatan perpisahan. Ya! kami akan berpisah. Kami ingin mencari apa yang kami inginkan. Menjadi apa yang kami impikan. Memberikan apa yang kami harapkan.

Bangsa ini telah tua umurnya. Bangsa ini, kini telah melepas merpati untuk terbang bebas diiringi dengan doa dan segala macam dukungan. 

Malam itu juga, kami diingatkan akan perpisahaan yang sejatinya adalah sebuah takdir. Perpisahaan yang tidak bisa terobati ketika reuni. Perpisahaan itu memisahkan fisik kami. Namun, dalam amalan-amalan yang ditorehkan oleh mereka kami bisa menyambung tali silaturahim. 

Mereka yang telah tiada. Memberi banyak arti bagi kami. Mereka yang telah mendahului kami, dan semoga segala amal yang tersebar dari mereka dapat berguna bagi kami. 
Aku memang tidak bisa berbicara banyak. Aku masih belum bisa menceritakan secara detail. Karena aku bukan pengingat yang baik. 

Teman, tenanglah dalam mengerjakan apa yang kau tuju. Kita adalah teman. Kita adalah keluarga. Kita saling mendoakan. Doa untuk kebaikan.

Bila suatu saat kita bersama lagi. Janganlah kalian melupakan kenangan indah yang kita rangkai dengan sisa umur kita ini. Mengenang apa yang telah kita perbuat. Tapi janganlah kalian marah dan jengkel bila kenangan itu meledakkan beberapa keburukan di otak kalian. 

Kenangan itu lah yang menghubungkan kita bila sedang berjauhan.
Maafkan aku bila hanya ini yang dapat aku buat untuk kalian. Aku bersyukur dapat menikmati sisa hidup ini bersama kalian. Bila suatu saat nanti kita dipertemukan oleh takdirNYA di suatu tempat yang kita sebut surga, maka patutlah kita berterimakasih padaNYA. 

Sekarang harapan itu tidak lagi terbelenggu. Jadilah apapun yang kalian inginkan. Wujudkanlah impianmu. Bahagiakanlah orang tuamu dengan segala prestasimu dan amal ibadahmu. Jadikanlah dirimu sebagai pecinta sejati. Mencintai NYA dengan tulus. Tanpa embel-embel kesombongan dan yang lainnya. Jadilah orang yang berisi dan berat bukan karena apa yang dia makan. Tapi, karena kalian berat dan berisi oleh iman.

My day before I die

 Ingin memulai? Mungkin dari kelahiran, atau dari terbitnya hari ini? Tapi ada sesuatu yang tidak bermula dan tidak berakhir. Dialah SANG PENCIPTA. Menggunakan berbagai macam campuran resep keindahan. Menjadikan hasil yang sempurna. Makhluk yang sempurna, dapat ditinggikan derajadnya dan itu adalah kehendakNYA untuk melakukan semua itu.

 Menjadikan dunia ini sebagai tempat singgah sementara. Mengumpulkan energi amalan-amalan dan memupuk ibadah. Sungguh suatu pemberian yang tidak dapat tergantikan. Memberi berbagai macam nikmat padi kalian makhluk-makhluk paling sempurna. Mungkin beberapa dari manusia itu dapat merasakan, tapi sebagian dari mereka juga tidak dapat merasakan.

 Waktu, adalah kunci bagi kita. Manusia, utuk dapat melihat dunia dan menerima nikmatNYA dengan iklhas.

Mencoba iklhas….dihari-hari menjelang kematianku. Mencoba memberikan hidup dan matiku hanya untukNYA.

3D

#

Inilah ORANG INDONESIA !!!!


punya mata untuk melihat
punya otak untuk mengerti
punya hati untuk ber-empati
kok masih aja nenek itu duduk bukan pada tempatnya


sumber :
http://www.indoflyer.net/forum/tm.asp?m=273030&mpage=1&key=&#273030

Teknologi Jam Peninggalan Peradaban Islam

 

Teknologi Jam Warisan Peradaban Islam

‘’Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihatmenasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.’‘ (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya menghormati dan menggunakan waktu secara optimal. Sebuah syair Arab bahkan mengibaratkan waktu seperti pedang. ‘’Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’hu qath’aka.’‘—Waktu laksana pedang. Jika kamu tidak memanfaatkannya, ia akan menebasmu.

Ajaran pentingnya memanfaatkan waktu telah melecut para sarjana Muslim untuk menciptakan alat pengukur waktu, yakni jam. Selain didesak tuntutan hidup, pembuatan jam di dunia Islam juga didorong kebutuhan keagamaan. Dengan menguasai teknologi pembuatan jam, umat Islam bisa mengetahui secara pasti waktu shalat.

Apalagi, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar menunaikan shalat tepat pada waktunya. Sebelum jam diciptakan, peradaban manusia menggunakan matahari sebagai patokan waktu. Jika matahari tepat di atas kepala, menunjukkan waktu sudah tengah hari atau sore. Ketika matahari dekat dengan kaki langit, berarti waktu sudah mendekati pagi atau malam.

Jam air
Sejarah mencatat peradaban manusia telah mengenal jam air sejak 200 SM. Meski begitu, jam air paling mutakhir pertama kali ditemukan di zaman kejayaan Islam. ‘’Kita tak perlu menekankan asal-usul jam air di dunia Islam. Dari sisi jangkauan dan daya cipta, jam al-Jazari (1136-1206 M) jauh melampaui pencapaian peradaban pra-Islam,’‘ tutur Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: An Illustrated History.

Di dunia Islam, al-Jazari memang bukan satu-satunya ilmuwan yang menciptakan jam. Pada puncak kejayaannya, utusan Khalifah Harun al-Rasyid—penguasa Di nas ti Abbasiyah—pernah menghadiahkan sebuah jam air kepada Charles yang Agung (Charlemagne), raja bangsa Frank. Menurut al-Hassan dan Hill, jam seperti itu juga pernah dibangun seorang insinyur Muslim bernama Ibnu al-Haystam (wafat 1039 M).

Deskripsi paling awal mengenai jam air dalam bahasa Arab, papar al-Hassan dan Hill, terdapat dalam risalah mesin karya al-Muradi yang bekerja di Spanyol Muslim pa da abad ke-11 M. Selain itu, pada abad yang sama, al-Zarqali juga telah membangun dua jam air besar di tepi Sungai Tagus di Toledo. Meski begitu, penciptaan jam air yang paling monumental dilakukan al-Jazari. 

Berkat kemampuan mekaniknya, al-Jazari tercatat mampu merakit beberapa jenis jam air. “Salah satunya, sebuah jam dengan tenaga air tingginya satu meter dan lebarnya satu setengah meter. Jam itu ber hasil direkonstruksi di Museum Ilmu Pengetahuan tahun 1976,” ungkap Donald Routledge Hill dalam karyanya A History of Engineering in Classical and Medieval Times.

Al-Jazari juga mampu membuat jam air berbentuk gajah. Bahkan, jam buatan al-Ja zari sudah mampu menghasilkan suara. Dalam manuskrip al-Jazari, jam itu merupakan jam terawal yang menggunakan flow regulator, sebuah sistem tutuplubang dan sebuah otomaton seperti sebuah jam burung.

“Jam ini merupakan jam pertama dengan reaksi otomatis dalam interval waktu. Jam ini menggunakan sebuah robot ma nu sia (humanoid) yang membentur gembreng dan sebuah robot burung mekanik secara otomatis bersiul. Jam air ini juga dikenal sebagai jam pertama yang bisa merekam waktu secara akurat untuk menyesuaikan lamanya hari yang tidak sama sepanjang tahun,” imbuh al-Hassan dan Hill.

Rancangan jam air buatan al-Jazari juga diakui sangat bagus. ‘’Jam al-Jazari penuh dengan ide-ide dan teknik-teknik yang penting bagi sejarah perancangan mesin,’‘ kata al-Hassan dan Hill.

Jam matahari
Menurut catatan sejarah, sundial atau jam matahari merupakan jam tertua dalam peradaban manusia. Jam ini telah dikenal sejak tahun 3500 SM. Pembuatan jam matahari di dunia Islam dilakukan Ibnu al-Shatir, seorang ahli Astronomi Muslim ( 1304-1375 M). “Ibnu al-Shatir merakit jam matahari yang bagus sekali untuk menara Masjid Umayyah di Damaskus,” ujar David A King dalam karyanya bertajuk The Astronomy of the Mamluks.

Berkat penemuannya itu, ia kemudian dikenal sebagai muwaqqit (pengatur waktu ibadah). Jam yang dibuat Ibnu al-Shatir itu masih tergolong jam matahari kuno yang didasarkan pada garis jam lurus. Ibnu al-Shatir membagi waktu dalam sehari dengan 12 jam, pada musim dingin waktu pendek, sedangkan pada musim panas waktu lebih panjang. Jam mataharinya itu merupakan polar-axis sundial paling tua yang masih tetap eksis hingga kini.

Jam astronomi
Ahli astronomi Islam di era kekhalifahan juga telah berhasil menciptakan jam de ngan berpatokan pada astronomi. “Misalnya, jam astrolabe. Sekitar abad ke-10, al-Sufi menjelaskan seribu kegunaan astrolab, termasuk pengatur waktu, terutama untuk waktu-waktu shalat dan Ramadhan,” jelas Dr Emily Winterburn dalam karyanya Using an Astrolabe.

David A King dalam bukunya bertajuk The Astronomy of the Mamluks menjelaskan bahwa Ibnu al-Shatir menemukan jam astrolab pertama di awal abad ke-14 M. Al-Jazari pun menciptakan jam astronomi. Jam astronomi terbesar yang dibuat al-Jazari disebut castle clock, yang dianggap menjadi analog komputer terprogram pertama.

Howard R Turner dalam karyanya bertajuk Science in Medieval Islam: An Illustrated Introduction menjelaskan bahwa jam itu merupakan sebuah alat yang leng kap dengan ketinggian 11 kaki dan me miliki fungsi ganda di samping sebagai alat pengatur waktu. Alat ini bisa digunakan untuk menunjukkan zodiak (ramalan bintang) serta orbit matahari dan bulan.

Sarjana Muslim lainnya yang menciptakan jam astronomi adalah Abu Raihan al-Biruni pada abad ke-11 M, yakni jam meka nik komputer kalender lunisolar. Jam itu berupa sebuah kereta dan rodanya. Selanjutnya, muncul jam mekanik astronomi yang hampir sejenis dengan karya Abu Raihan al-Biruni.

“Jam itu dibuat Abu Bakar dari Isfahan pada 1235 M,” tutur Silvio A Bedini dalam bukunya Mechanical Universe: The Astrarium of Giovanni de’ Dondi”, Transactions of the American Philosophical Society. desi susilawaty/hri

Insinyur Muslim Pencipta Jam

Al-Jazari
Ilmuwan yang bergelar pemimpin para insinyur Muslim itu telah berjasa membuat jam air. Sejatinya, ia bernama Abu al-‘Iz Ibn Isma’il ibn al-Razaz al-Jazari (1136-1206). Ia biasa dipanggil al-Jazari. Dunia mengenalnya sebagai salah seorang sarjana, penemu, insinyur mekanik, pemahat, seniman, dan seorang astronom. Karyanya yang paling terkenal Kitab FÌ Ma’rifat al-Hiyal al-Handasiyya (Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices) tahun 1206 M. Dalam kitab itu, al-Jazari menjelaskan sekitar 50 alat mekanik ciptaannya.

Ibnu al-Shatir
Sejatinya, dia bernama Ala al-Din Abu’l-Hasan Ali Ibn Ibrahim Ibnu al-Shatir (1304-1375). Al-Shatir begitu ia biasa disebut. Al-Shatir merupakan astronom Muslim yang juga seorang ahli matematika. Karyanya yang paling terkenal dalam astronomi adalah Kitab Nihayat al-Sul Fi Tashih al-Usul.

Dalam buku itu, ia merombak habis Teori Geosentris yang dicetuskan Ptolemeus. Secara matematis, al-Shatir memperkenalkan adanya epicycle yang rumit (sistem lingkaran dalam lingkaran). Al-Shatir mencoba menjelaskan bagaimana gerak merkurius jika bumi menjadi pusat alam semestanya dan merkurius bergerak mengitari bumi. she

Jam Mekanikal dari Dunia Islam    

Jam dengan alat berat pertama kali diciptakan Ibnu Khalaf al-Muradi dari Spanyol Islam . Ahmad Y Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: An Illustrated History mengungkapkan, ilmuwan Muslim yang menciptakan jam mekanik lainnya adalah Taqi al-Din. Jam mekanik ciptaannya itu dituliskan dalam The Brightest Stars for the Construction of Mecahnical Clocks.

Dalam bukunya itu, Taqi al-Din menguraikan konstruksi jam yang dikendalikan pemberat dengan mekanisme gerak berupa verge an foliot, sua tu rangkaian gir yang berdetak, sebu ah alarm, dan pemodelan fasefase bulan. ‘’Dia juga menjabarkan tentang pembuatan jam yang dijalankan pegas dengan penggerak silinderkonis,’‘ tutur al-Hassan.

Jam dengan menggunakan alat berat serupa kemudian muncul dalam sebuah karya bahasa Spanyol yang disusun dari sumber-sumber berbahasa Arab. Al-Jazari juga menemukan jam air dengan pengatur air dan beban. Ini meliputi jam dengan roda gigi dan sebuah jam tenaga air yang praktis, dengan tinggi satu meter dan lebar satu setengah meter.

Masyarakat Eropa baru mengenal jam yang dikendalikan pemberat pada 1300 M. Sedangkan jam yang diken dalikan pegas baru dikuasai peradab an Barat tahun 1430 M. Masyarakat Inggris mulai membuat arloji pada 1580 M. Sedangkan orang Jerman sudah menciptakan arloji tahun 1525 M.

Meski begitu, menurut al-Hassan dan Hill, dibandingkan orang Eropa, Taqi al-Din lebih awal menguasai seni horologi (seni pembuatan jam). Sayangnya, penguasaan teknologi jam itu tak dibarengi dengan munculnya industri arloji di Turki. Justru negaranegara Eropalah yang memasok jamjam murah bagi Turki. Umat Islam tak mampu menjadikan temuannya menjadi sebuah industri. 

Sumber: republika.co.id

Menghina Islam Bukan Pelanggaran

 

 

anti-Islam-180.jpgPenghinaan terhadap Islam, bukan berarti juga sekaligus penghinaan pada kaum muslimin. Demikian pendapat lembaga pengadilan tertinggi Belanda. Selasa lalu, Mahkamah Agung Belanda memvonis bebas seorang pria, yang menamakan Islam suatu ‘tumor’. Vonis MA Belanda ini akan berdampak pada proses pengadilan Geert Wilders.

“Hentikan tumor yang bernama Islam ini”, tulis M.B. pada suatu poster yang ia tempelkan di jendela rumahnya di Valkenswaard, pada tahun 2004. Setahun kemudian, ia mendapat hukuman percobaan, dua pekan penjara.

Vonis Pengadilan Tinggi
Karena menamakan Islam tumor, dengan demikian M.B. menyatakan hal ini berkaitan dengan sesuatu yang harus segera diberantas. “Dengan begitu ia menghina Islam, dan kaum muslimin”, demikian vonis Pengadilan Tinggi, pada tahun 2005.

Vonis tersebut kini masuk keranjang sampah. Kini MA Belanda memutuskan, menghina agama bukan suatu pelanggaran hukum. Juga bukan penghinaan, bila dilakukan sedemikian rupa, sehingga melukai perasaan keagamaan penganut agama tersebut.

Bahwa poster M.B. menyinggung perasaan sekelompok warga muslimin, tidak berarti juga menyinggung warga muslim secara keseluruhan, kata MA Belanda. Menurut MA Belanda, tentu saja pernyataan tersebut mengacu pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Yang menganut agama berbeda dari beberapa kelompok masyarakat lainnya.

Wilders 200.jpgPengadilan Geert Wilders
Jelas, vonis ini akan mempengaruhi proses pengadilan politikus anti-Islam, Geert Wilders, yang akan digelar di Amsterdam. Geert Wilders, yang kini jadi terkenal di seluruh dunia, akan diadili sehubungan dengan berbagai pernyataannya mengenai Islam dan kaum muslimin.

Menurut Kejaksaan Amsterdam, Geert Wilders mendiskriminasi semua kaum muslimin, karena menyamakan ajaran Islam dengan Nazisme, dan Al Qur’an dengan Mein Kampf, tulisan Adolf Hitler. Pihak kejaksaan menilai, dari berbagai pernyataan terbuka Geert Wilders, tampak jelas bahwa yang ia maksud para pemeluk agama Islam.

Yurisprudensi
Dengan terbitnya vonis MA Belanda ini, nanti pengadilan di Amsterdam harus bisa membuktikan bahwa semua pernyataan Geert Wilders memang benar-benar mengacu pada pemeluk agama Islam secara keseluruhan.

Atas dasar vonis MA Belanda ini, masih belum bisa dipastikan bagaimana kelanjutan proses pengadilan Geert Wilders nanti. Penghinaan pada sekelompok orang, hanya merupakan salahsatu butir tuduhan. Anggota parlemen Belanda ini juga didakwa menyebar kebencian dan melakukan diskriminasi. Sedang proses pengadilan M.B. hanya menyangkut penghinaan sekelompok orang, atas dasar agama, atau kepercayaan mereka.

Kapan persisnya sidang pengadilan Geert Wilders berlangsung, masih belum diketahui.

  • Kategori

  • another side

  • Tanggalan

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Jun    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Smada’s Social Clan

  • Diatas